Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Februari 2010

Terapi Untuk Anak

Ditulis oleh Administrator dari Gopina Goham ..Senin, 15 Februari 2010 12:11
www.balita-anda.com-psychologi

Sebenarnya, senjatanya Psikolog itu bukan tes lho. Ada dua senjata utama psikolog : anamnesa dan observasi. Dengan dua keterampilan tersebut, Psikolog bisa memberikan 'working diagnosis' yang akan digunakan untuk menegakkan diagnosis.

Jadi kapan seorang anak perlu di tes psikologi? jawabnya adalah JIKA PERLU. Ada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan seorang psikolog untuk melakukan pengetesan kecerdasan (tes IQ) terhadap seorang anak. Pertama, jika ada pihak lain yang memerlukan hasil pengetesan. Biasanya, ini terjadi bila anak harus menjalani evaluasi psikologis sebagai persyaratan masuk ke sekolah atau sebagai informasi bagi pihak guru untuk menganalisis dan mengatasi permasalahan yang terjadi pada anak di sekolah. Kedua, jika ternyata kasus yang dihadapi seorang anak berkaitan dengan aspek kecerdasannya. Bila tidak diperlukan angka kecerdasannya, maka tidak perlu suatu tes.

Tes psikologi banyak macamnya. Ada tes kecerdasan, ada tes kepribadian. Untuk anak, ada 2 tes kecerdasan standar internasional yang biasa digunakan di Indonesia, terutama untuk anak usia sekolah. Skala Stanford-Binet (SB) dan Skala Wechsler. Di luar dua jenis skala tersebut, biasanya adalah skala tes buatan yang belum terstandardisasi secara baku. Cara pengetesan terhadap anak harusnya berlangsung secara individual. Karena, anak memerlukan situasi pengetesan yang baik agar hasilnya optimal. Selain itu, psikolog juga tetap melakukan observasi terhadap cara kerja anak. Jadi, hasilnya tidak melulu karena angka, tapi juga meliputi hasil pengamatannya. Pelaksanaan yang individual tentunya akan mempengaruhi harga. Akan beda harga yang dikenakan bila pelaksanaan tes klasikal seperti seleksi karyawan. Ada variabel waktu pelaksanaan yang harus diperhitungkan.

Terapi Untuk Anak

Ditulis oleh Administrator dari Gopina Goham ..Senin, 15 Februari 2010 12:11
www.balita-anda.com-psychologi

Sebenarnya, senjatanya Psikolog itu bukan tes lho. Ada dua senjata utama psikolog : anamnesa dan observasi. Dengan dua keterampilan tersebut, Psikolog bisa memberikan 'working diagnosis' yang akan digunakan untuk menegakkan diagnosis.

Jadi kapan seorang anak perlu di tes psikologi? jawabnya adalah JIKA PERLU. Ada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan seorang psikolog untuk melakukan pengetesan kecerdasan (tes IQ) terhadap seorang anak. Pertama, jika ada pihak lain yang memerlukan hasil pengetesan. Biasanya, ini terjadi bila anak harus menjalani evaluasi psikologis sebagai persyaratan masuk ke sekolah atau sebagai informasi bagi pihak guru untuk menganalisis dan mengatasi permasalahan yang terjadi pada anak di sekolah. Kedua, jika ternyata kasus yang dihadapi seorang anak berkaitan dengan aspek kecerdasannya. Bila tidak diperlukan angka kecerdasannya, maka tidak perlu suatu tes.

Tes psikologi banyak macamnya. Ada tes kecerdasan, ada tes kepribadian. Untuk anak, ada 2 tes kecerdasan standar internasional yang biasa digunakan di Indonesia, terutama untuk anak usia sekolah. Skala Stanford-Binet (SB) dan Skala Wechsler. Di luar dua jenis skala tersebut, biasanya adalah skala tes buatan yang belum terstandardisasi secara baku. Cara pengetesan terhadap anak harusnya berlangsung secara individual. Karena, anak memerlukan situasi pengetesan yang baik agar hasilnya optimal. Selain itu, psikolog juga tetap melakukan observasi terhadap cara kerja anak. Jadi, hasilnya tidak melulu karena angka, tapi juga meliputi hasil pengamatannya. Pelaksanaan yang individual tentunya akan mempengaruhi harga. Akan beda harga yang dikenakan bila pelaksanaan tes klasikal seperti seleksi karyawan. Ada variabel waktu pelaksanaan yang harus diperhitungkan.

Terapi Untuk Anak

Ditulis oleh Administrator dari Gopina Goham ..Senin, 15 Februari 2010 12:11
www.balita-anda.com-psychologi

Sebenarnya, senjatanya Psikolog itu bukan tes lho. Ada dua senjata utama psikolog : anamnesa dan observasi. Dengan dua keterampilan tersebut, Psikolog bisa memberikan 'working diagnosis' yang akan digunakan untuk menegakkan diagnosis.

Jadi kapan seorang anak perlu di tes psikologi? jawabnya adalah JIKA PERLU. Ada kondisi-kondisi tertentu yang mengharuskan seorang psikolog untuk melakukan pengetesan kecerdasan (tes IQ) terhadap seorang anak. Pertama, jika ada pihak lain yang memerlukan hasil pengetesan. Biasanya, ini terjadi bila anak harus menjalani evaluasi psikologis sebagai persyaratan masuk ke sekolah atau sebagai informasi bagi pihak guru untuk menganalisis dan mengatasi permasalahan yang terjadi pada anak di sekolah. Kedua, jika ternyata kasus yang dihadapi seorang anak berkaitan dengan aspek kecerdasannya. Bila tidak diperlukan angka kecerdasannya, maka tidak perlu suatu tes.

Tes psikologi banyak macamnya. Ada tes kecerdasan, ada tes kepribadian. Untuk anak, ada 2 tes kecerdasan standar internasional yang biasa digunakan di Indonesia, terutama untuk anak usia sekolah. Skala Stanford-Binet (SB) dan Skala Wechsler. Di luar dua jenis skala tersebut, biasanya adalah skala tes buatan yang belum terstandardisasi secara baku. Cara pengetesan terhadap anak harusnya berlangsung secara individual. Karena, anak memerlukan situasi pengetesan yang baik agar hasilnya optimal. Selain itu, psikolog juga tetap melakukan observasi terhadap cara kerja anak. Jadi, hasilnya tidak melulu karena angka, tapi juga meliputi hasil pengamatannya. Pelaksanaan yang individual tentunya akan mempengaruhi harga. Akan beda harga yang dikenakan bila pelaksanaan tes klasikal seperti seleksi karyawan. Ada variabel waktu pelaksanaan yang harus diperhitungkan.

Diare pada Bayi

Diare Infeksius adalah suatu keadaan dimana anak sering buang air besar dengan tinja yang encer sebagai akibat dari suatu infeksi.

PENYEBAB

  • Penyebab yang paling sering adalah infeksi oleh bakteri atau virus.
  • Bayi bisa terinfeksi jika menelan organisme tersebut ketika melewati jalan lahir yang terkontaminasi atau ketika disentuh/dipegang oleh tangan yang terkontaminasi.
  • Sumber penularan lainnya adalah barang-barang, makanan maupun botol susu yang terkontaminasi.
  • Kadang infeksi bisa terjadi akibat menghirup organisme yang melayang-layang di udara, terutama ketika sedang terjadi wabah virus.
  • Diare lebih sering ditemukan pada lingkungan yang kurang bersih atau pada lingkungan yang penuh sesak.

Diare pada Bayi

Diare Infeksius adalah suatu keadaan dimana anak sering buang air besar dengan tinja yang encer sebagai akibat dari suatu infeksi.

PENYEBAB

  • Penyebab yang paling sering adalah infeksi oleh bakteri atau virus.
  • Bayi bisa terinfeksi jika menelan organisme tersebut ketika melewati jalan lahir yang terkontaminasi atau ketika disentuh/dipegang oleh tangan yang terkontaminasi.
  • Sumber penularan lainnya adalah barang-barang, makanan maupun botol susu yang terkontaminasi.
  • Kadang infeksi bisa terjadi akibat menghirup organisme yang melayang-layang di udara, terutama ketika sedang terjadi wabah virus.
  • Diare lebih sering ditemukan pada lingkungan yang kurang bersih atau pada lingkungan yang penuh sesak.

Diare pada Bayi

Diare Infeksius adalah suatu keadaan dimana anak sering buang air besar dengan tinja yang encer sebagai akibat dari suatu infeksi.

PENYEBAB

  • Penyebab yang paling sering adalah infeksi oleh bakteri atau virus.
  • Bayi bisa terinfeksi jika menelan organisme tersebut ketika melewati jalan lahir yang terkontaminasi atau ketika disentuh/dipegang oleh tangan yang terkontaminasi.
  • Sumber penularan lainnya adalah barang-barang, makanan maupun botol susu yang terkontaminasi.
  • Kadang infeksi bisa terjadi akibat menghirup organisme yang melayang-layang di udara, terutama ketika sedang terjadi wabah virus.
  • Diare lebih sering ditemukan pada lingkungan yang kurang bersih atau pada lingkungan yang penuh sesak.

Agar Anak Mandiri

Oleh: Ummu Nadzifah, S.Pd
Staf di Lembaga Bantuan Psikologi dan Manajemen (LBPM)

Dalam bahasa sehari-hari, istilah anak mandiri sering dikonotasikan dengan anak yang mampu makan sendiri atau mandi sendiri. Sebaliknya, anak yang tidak mandiri berarti anak yang segala aktivitasnya—makan, mandi, berpakaian, dan bermain—tidak mau sendiri; semua harus dilayani oleh lingkunganya.
Dalam pandangan Islam, anak yang mandiri adalah anak yang mampu memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan naluri (gharîzah) maupun kebutuhan fisik (hâjah al-’udhawiyah), oleh dirinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa bergantung pada orang lain. Bertanggung jawab maksudnya adalah meletakkan segala tanggung jawab dalam kaitannya dengan orang lain sebagai bagian yang tidak terpisahkan darinya, yakni sama-sama mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi (Taqiyuddin An-Nabhani, Hakikat Berpikir Tentang Hidup, hlm. 86-95).
Anak yang mandiri tidak berteriak minta diambilkan makan dan tidak rewel. Anak mandiri akan melayani diri sendiri dengan mengambil makanan sendiri. Jika terdapat anggota keluarga yang belum makan, anak mandiri tidak akan mengambil dan menghabiskan semua makanan, tetapi hanya mengambil bagiannya saja. Demikian halnya jika anak mengetahui bahwa ibunya sedang bekerja di dapur atau mengisi pengajian; ia akan beraktivitas sendiri atau dengan temannya tanpa mengganggu ibunya.
Sebenarnya, naluri setiap bayi adalah berkembang untuk mandiri. Misalnya, mereka belajar untuk tengkurap, merangkak, berjalan, makan, dan minum sendiri. Dalam belajar berjalan, mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa walaupun sering jatuh dan menangis. Hal itu merupakan upaya untuk menjadi manusia yang mandiri. Hanya saja, lingkungan sering kurang tanggap dan kondusif terhadap proses kemandirian anak sehingga anak diperlakukan secara salah. Akibatnya, anak justru menjadi tidak mandiri.

Dampak Perkembangan Anak
Anak-anak yang berkembang dengan kemandirian secara normal akan memiliki kecenderungan positif pada masa depan. Dalam mengarungi kehidupan, anak mandiri cenderung berprestasi karena dalam menyelesaikan tugas anak tersebut tidak bergantung pada orang lain. Pada akhirnya anak merasa mampu menumbuhkan rasa percaya diri. Anak mandiri yakin, seandainya ada risiko, ia mampu menyelesaikannya dengan baik. Dengan begitu, kelak anak akan tumbuh menjadi orang yang mampu berpikir serius, yakni senantiasa berusaha untuk merealisasikan sesuatu yang ditargetkan atau yang dimaksudkan (qashd, purpose) (An-Nabhani, Ibid., hlm. 130-137). Selanjutnya, ia akan tumbuh menjadi anak yang prestatif.
Demikian halnya di lingkungan keluarga dan sosial, anak yang mandiri akan mudah menyesuaikan diri (environment adjustment). Ia akan mudah untuk diterima oleh anak-anak dan teman-teman di sekitarnya. Jika demikian, kecerdasan anak—baik dalam bentuk kecerdasan intelektual (intelligence quotion), kecerdasan emosional (emotion quotion), maupun kecerdasan spiritual (spiritual quotion)—akan terus berkembang. Anak-anak seperti inilah yang kelak akan memiliki keberanian untuk melakukan amar makruf nahi mungkar sekaligus menjadi pemimpin di tengah-tengah kaum yang bertakwa.
Sebaliknya, anak-anak yang tidak mandiri akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadiannya sendiri. Jika hal ini tidak segera teratasi, anak akan mengalami kesulitan pada perkembangan selanjutnya. Anak akan susah menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga ia memiliki kepribadian kaku. Anak yang tidak mandiri juga akan menyusahkan orang lain.
Anak-anak yang tidak mandiri cenderung tidak percaya diri dan tidak mampu menyelesaikan tugas hidupnya dengan baik. Akibatnya, prestasi belajarnya bisa mengkhawatirkan. Anak-anak seperti ini senantiasa bergantung pada orang lain; misalnya mulai dari persiapan berangkat sekolah, ketika di lingkungan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, sampai dalam pola belajarnya. Dalam persiapan berangkat sekolah, misalnya, anak selalu ingin dimandikan orang lain, dibantu berpakaiannya, minta disuapi, buku dan peralatan sekolah harus disiapkan orang lain, termasuk harus selalu diantar ke sekolah. Ketika belajar di rumah, mereka mungkin mau, asalkan semua dilayani; misalnya anak akan menyuruh orang lain untuk mengambilkan pensil, buku, serutan dan sebagainya.

Penyebab Anak Tidak Mandiri
Ada beberapa alasan yang menyebabkan anak tidak mandiri. Pertama: adanya kekhawatiran yang berlebihan dari orangtua terhadap anaknya. Misalnya, orangtua melarang anaknya mandi sendiri karena khawatir kurang bersih; melarang anak makan sendiri karena khawatir makanan tumpah. Segala kehawatiran lingkungan yang berlebihan akan menyebabkan anak tidak mandiri.
Kedua: orangtua sering membatasi dan melarang anaknya berbuat sesuatu secara berlebihan. Setiap anak beraktivitas, orangtua sering mengatakan, “jangan” tanpa diikuti argumentasi yang jelas. Pola doktrin seperti ini membuat anak ragu-ragu untuk mengembangkan kreativitasnya. Kondisi seperti ini akan mendidik anak untuk tidak berani membuat keputusan (decession making) dalam kehidupannya sehari-hari.
Ketiga: kasih-sayang orangtua yang berlebihan terhadap anak. Misalnya, karena sangat sayang, apapun keinginan anak dipenuhi. Bahkan karena protektifnya, anak dibiarkan saja “duduk manis”, sementara orangtua atau pembantunya sibuk melayaninya. Pendidikan dengan model menjadikan anak sebagai raja kecil atau “the little king” dalam rumah merupakan penyebab anak tidak mandiri.

Agar Anak Mandiri
Untuk mencegah ketidakmandirian anak, atau agar anak mandiri, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orangtua sebagai berikut.
Pertama: memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan tingkat perkembangan (kemampuan) akalnya. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ali bin Abi Thalib ra., pernah bersabda:

Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka ketahui. Apakah engkau suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR al-Bukhari).

Dengan demikian, pemberian pemahaman terhadap anak tentang arti pentingnya mandiri harus didasarkan pada argumentasi yang bisa dipahami anak dan berlandaskan akidah Islam. Tujuannya adalah agar anak menyadari pentingnya memenuhi kebutuhan sendiri secara bertanggung jawab sesuai dengan perintah Allah Swt.; bukan melakukannya karena kebiasaan saja, takut terhadap orangtua, atau takut gagal jika tidak mandiri. Penyadaran dengan pemahaman tidak cukup dilakukan sekali. Orangtua harus sabar untuk terus membimbingnya dan disertai praktik mandiri pada anak.
Kedua: berbuatlah secara bijaksana. Dalam hal tertentu, jangan memaksa anak untuk berbuat sesuatu ataupun membiarkan anak berbuat sesuatu, kecuali sesuatu itu tidak membahayakan dirinya dan tidak menyimpang dari tata aturan Islam. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra.:

Kamu semua disuruh untuk berlaku manis dan bijaksana, bukan berlaku kasar dan mengundang kesulitan. (HR al-Bukhari).

Dengan cara demikian, naluri anak untuk berkembang dapat tersalurkan; pola intelektualitas, emosionalitas dan kreativitas anak juga akan tumbuh. Berbeda halnya dengan anak yang senantiasa dibatasi (restricted), naluri perkembangan psikologinya bisa menjadi tumpul. Akibatnya, anak akan bergantung pada orang lain dan tidak berprestasi.
Ketiga: memberikan kasih sayang secara wajar; dalam perilaku, hadiah, maupun pujian. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Abu Musa ra., pernah mendengar seorang laki-laki yang memuji seorang yang lain secara berlebihan. Lalu Beliau bersabda (yang artinya), “Kamu telah mencelakakan orang itu!” (HR al-Bukhari).
Kasih-sayang yang kurang ataupun berlebihan sama-sama memiliki dampak negatif bagi perkembangan anak. Jika kasih-sayang orangtua kurang, anak bisa menjadi “extrem kiri”: bandel, kasar, jahat, dan sebagainya. Sebaliknya, jika anak ’kelebihan’ kasih sayang, pola kepribadian anak akan menjadi “extrem kanan”: bersikap manja sehingga malas merawat dirinya, selalu minta dituruti kemauannya, dan sering mengendalikan orangtuanya.
Keempat: memberikan cara pendidikan secara tegas kepada anak. Tidak dibenarkan jika orangtua bersifat “plintat-plintut” (inkonsisten) dalam mendidik anak. Di sinilah juga pentingnya ayah dan ibu seiring dan sejalan dalam mendidik anak. Ketidaksejalanan ayah dan ibu dalam mendidik anak akan membuat anak bersikap tidak konsisten sehingga sikap kemandirian anak tidak berkembang secara baik.
Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.

Agar Anak Mandiri

Oleh: Ummu Nadzifah, S.Pd
Staf di Lembaga Bantuan Psikologi dan Manajemen (LBPM)

Dalam bahasa sehari-hari, istilah anak mandiri sering dikonotasikan dengan anak yang mampu makan sendiri atau mandi sendiri. Sebaliknya, anak yang tidak mandiri berarti anak yang segala aktivitasnya—makan, mandi, berpakaian, dan bermain—tidak mau sendiri; semua harus dilayani oleh lingkunganya.
Dalam pandangan Islam, anak yang mandiri adalah anak yang mampu memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan naluri (gharîzah) maupun kebutuhan fisik (hâjah al-’udhawiyah), oleh dirinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa bergantung pada orang lain. Bertanggung jawab maksudnya adalah meletakkan segala tanggung jawab dalam kaitannya dengan orang lain sebagai bagian yang tidak terpisahkan darinya, yakni sama-sama mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi (Taqiyuddin An-Nabhani, Hakikat Berpikir Tentang Hidup, hlm. 86-95).
Anak yang mandiri tidak berteriak minta diambilkan makan dan tidak rewel. Anak mandiri akan melayani diri sendiri dengan mengambil makanan sendiri. Jika terdapat anggota keluarga yang belum makan, anak mandiri tidak akan mengambil dan menghabiskan semua makanan, tetapi hanya mengambil bagiannya saja. Demikian halnya jika anak mengetahui bahwa ibunya sedang bekerja di dapur atau mengisi pengajian; ia akan beraktivitas sendiri atau dengan temannya tanpa mengganggu ibunya.
Sebenarnya, naluri setiap bayi adalah berkembang untuk mandiri. Misalnya, mereka belajar untuk tengkurap, merangkak, berjalan, makan, dan minum sendiri. Dalam belajar berjalan, mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa walaupun sering jatuh dan menangis. Hal itu merupakan upaya untuk menjadi manusia yang mandiri. Hanya saja, lingkungan sering kurang tanggap dan kondusif terhadap proses kemandirian anak sehingga anak diperlakukan secara salah. Akibatnya, anak justru menjadi tidak mandiri.

Dampak Perkembangan Anak
Anak-anak yang berkembang dengan kemandirian secara normal akan memiliki kecenderungan positif pada masa depan. Dalam mengarungi kehidupan, anak mandiri cenderung berprestasi karena dalam menyelesaikan tugas anak tersebut tidak bergantung pada orang lain. Pada akhirnya anak merasa mampu menumbuhkan rasa percaya diri. Anak mandiri yakin, seandainya ada risiko, ia mampu menyelesaikannya dengan baik. Dengan begitu, kelak anak akan tumbuh menjadi orang yang mampu berpikir serius, yakni senantiasa berusaha untuk merealisasikan sesuatu yang ditargetkan atau yang dimaksudkan (qashd, purpose) (An-Nabhani, Ibid., hlm. 130-137). Selanjutnya, ia akan tumbuh menjadi anak yang prestatif.
Demikian halnya di lingkungan keluarga dan sosial, anak yang mandiri akan mudah menyesuaikan diri (environment adjustment). Ia akan mudah untuk diterima oleh anak-anak dan teman-teman di sekitarnya. Jika demikian, kecerdasan anak—baik dalam bentuk kecerdasan intelektual (intelligence quotion), kecerdasan emosional (emotion quotion), maupun kecerdasan spiritual (spiritual quotion)—akan terus berkembang. Anak-anak seperti inilah yang kelak akan memiliki keberanian untuk melakukan amar makruf nahi mungkar sekaligus menjadi pemimpin di tengah-tengah kaum yang bertakwa.
Sebaliknya, anak-anak yang tidak mandiri akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadiannya sendiri. Jika hal ini tidak segera teratasi, anak akan mengalami kesulitan pada perkembangan selanjutnya. Anak akan susah menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga ia memiliki kepribadian kaku. Anak yang tidak mandiri juga akan menyusahkan orang lain.
Anak-anak yang tidak mandiri cenderung tidak percaya diri dan tidak mampu menyelesaikan tugas hidupnya dengan baik. Akibatnya, prestasi belajarnya bisa mengkhawatirkan. Anak-anak seperti ini senantiasa bergantung pada orang lain; misalnya mulai dari persiapan berangkat sekolah, ketika di lingkungan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, sampai dalam pola belajarnya. Dalam persiapan berangkat sekolah, misalnya, anak selalu ingin dimandikan orang lain, dibantu berpakaiannya, minta disuapi, buku dan peralatan sekolah harus disiapkan orang lain, termasuk harus selalu diantar ke sekolah. Ketika belajar di rumah, mereka mungkin mau, asalkan semua dilayani; misalnya anak akan menyuruh orang lain untuk mengambilkan pensil, buku, serutan dan sebagainya.

Penyebab Anak Tidak Mandiri
Ada beberapa alasan yang menyebabkan anak tidak mandiri. Pertama: adanya kekhawatiran yang berlebihan dari orangtua terhadap anaknya. Misalnya, orangtua melarang anaknya mandi sendiri karena khawatir kurang bersih; melarang anak makan sendiri karena khawatir makanan tumpah. Segala kehawatiran lingkungan yang berlebihan akan menyebabkan anak tidak mandiri.
Kedua: orangtua sering membatasi dan melarang anaknya berbuat sesuatu secara berlebihan. Setiap anak beraktivitas, orangtua sering mengatakan, “jangan” tanpa diikuti argumentasi yang jelas. Pola doktrin seperti ini membuat anak ragu-ragu untuk mengembangkan kreativitasnya. Kondisi seperti ini akan mendidik anak untuk tidak berani membuat keputusan (decession making) dalam kehidupannya sehari-hari.
Ketiga: kasih-sayang orangtua yang berlebihan terhadap anak. Misalnya, karena sangat sayang, apapun keinginan anak dipenuhi. Bahkan karena protektifnya, anak dibiarkan saja “duduk manis”, sementara orangtua atau pembantunya sibuk melayaninya. Pendidikan dengan model menjadikan anak sebagai raja kecil atau “the little king” dalam rumah merupakan penyebab anak tidak mandiri.

Agar Anak Mandiri
Untuk mencegah ketidakmandirian anak, atau agar anak mandiri, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orangtua sebagai berikut.
Pertama: memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan tingkat perkembangan (kemampuan) akalnya. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ali bin Abi Thalib ra., pernah bersabda:

Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka ketahui. Apakah engkau suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR al-Bukhari).

Dengan demikian, pemberian pemahaman terhadap anak tentang arti pentingnya mandiri harus didasarkan pada argumentasi yang bisa dipahami anak dan berlandaskan akidah Islam. Tujuannya adalah agar anak menyadari pentingnya memenuhi kebutuhan sendiri secara bertanggung jawab sesuai dengan perintah Allah Swt.; bukan melakukannya karena kebiasaan saja, takut terhadap orangtua, atau takut gagal jika tidak mandiri. Penyadaran dengan pemahaman tidak cukup dilakukan sekali. Orangtua harus sabar untuk terus membimbingnya dan disertai praktik mandiri pada anak.
Kedua: berbuatlah secara bijaksana. Dalam hal tertentu, jangan memaksa anak untuk berbuat sesuatu ataupun membiarkan anak berbuat sesuatu, kecuali sesuatu itu tidak membahayakan dirinya dan tidak menyimpang dari tata aturan Islam. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra.:

Kamu semua disuruh untuk berlaku manis dan bijaksana, bukan berlaku kasar dan mengundang kesulitan. (HR al-Bukhari).

Dengan cara demikian, naluri anak untuk berkembang dapat tersalurkan; pola intelektualitas, emosionalitas dan kreativitas anak juga akan tumbuh. Berbeda halnya dengan anak yang senantiasa dibatasi (restricted), naluri perkembangan psikologinya bisa menjadi tumpul. Akibatnya, anak akan bergantung pada orang lain dan tidak berprestasi.
Ketiga: memberikan kasih sayang secara wajar; dalam perilaku, hadiah, maupun pujian. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Abu Musa ra., pernah mendengar seorang laki-laki yang memuji seorang yang lain secara berlebihan. Lalu Beliau bersabda (yang artinya), “Kamu telah mencelakakan orang itu!” (HR al-Bukhari).
Kasih-sayang yang kurang ataupun berlebihan sama-sama memiliki dampak negatif bagi perkembangan anak. Jika kasih-sayang orangtua kurang, anak bisa menjadi “extrem kiri”: bandel, kasar, jahat, dan sebagainya. Sebaliknya, jika anak ’kelebihan’ kasih sayang, pola kepribadian anak akan menjadi “extrem kanan”: bersikap manja sehingga malas merawat dirinya, selalu minta dituruti kemauannya, dan sering mengendalikan orangtuanya.
Keempat: memberikan cara pendidikan secara tegas kepada anak. Tidak dibenarkan jika orangtua bersifat “plintat-plintut” (inkonsisten) dalam mendidik anak. Di sinilah juga pentingnya ayah dan ibu seiring dan sejalan dalam mendidik anak. Ketidaksejalanan ayah dan ibu dalam mendidik anak akan membuat anak bersikap tidak konsisten sehingga sikap kemandirian anak tidak berkembang secara baik.
Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.

Agar Anak Mandiri

Oleh: Ummu Nadzifah, S.Pd
Staf di Lembaga Bantuan Psikologi dan Manajemen (LBPM)

Dalam bahasa sehari-hari, istilah anak mandiri sering dikonotasikan dengan anak yang mampu makan sendiri atau mandi sendiri. Sebaliknya, anak yang tidak mandiri berarti anak yang segala aktivitasnya—makan, mandi, berpakaian, dan bermain—tidak mau sendiri; semua harus dilayani oleh lingkunganya.
Dalam pandangan Islam, anak yang mandiri adalah anak yang mampu memenuhi kebutuhannya, baik kebutuhan naluri (gharîzah) maupun kebutuhan fisik (hâjah al-’udhawiyah), oleh dirinya sendiri secara bertanggung jawab tanpa bergantung pada orang lain. Bertanggung jawab maksudnya adalah meletakkan segala tanggung jawab dalam kaitannya dengan orang lain sebagai bagian yang tidak terpisahkan darinya, yakni sama-sama mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi (Taqiyuddin An-Nabhani, Hakikat Berpikir Tentang Hidup, hlm. 86-95).
Anak yang mandiri tidak berteriak minta diambilkan makan dan tidak rewel. Anak mandiri akan melayani diri sendiri dengan mengambil makanan sendiri. Jika terdapat anggota keluarga yang belum makan, anak mandiri tidak akan mengambil dan menghabiskan semua makanan, tetapi hanya mengambil bagiannya saja. Demikian halnya jika anak mengetahui bahwa ibunya sedang bekerja di dapur atau mengisi pengajian; ia akan beraktivitas sendiri atau dengan temannya tanpa mengganggu ibunya.
Sebenarnya, naluri setiap bayi adalah berkembang untuk mandiri. Misalnya, mereka belajar untuk tengkurap, merangkak, berjalan, makan, dan minum sendiri. Dalam belajar berjalan, mereka berusaha sekuat tenaga untuk bisa walaupun sering jatuh dan menangis. Hal itu merupakan upaya untuk menjadi manusia yang mandiri. Hanya saja, lingkungan sering kurang tanggap dan kondusif terhadap proses kemandirian anak sehingga anak diperlakukan secara salah. Akibatnya, anak justru menjadi tidak mandiri.

Dampak Perkembangan Anak
Anak-anak yang berkembang dengan kemandirian secara normal akan memiliki kecenderungan positif pada masa depan. Dalam mengarungi kehidupan, anak mandiri cenderung berprestasi karena dalam menyelesaikan tugas anak tersebut tidak bergantung pada orang lain. Pada akhirnya anak merasa mampu menumbuhkan rasa percaya diri. Anak mandiri yakin, seandainya ada risiko, ia mampu menyelesaikannya dengan baik. Dengan begitu, kelak anak akan tumbuh menjadi orang yang mampu berpikir serius, yakni senantiasa berusaha untuk merealisasikan sesuatu yang ditargetkan atau yang dimaksudkan (qashd, purpose) (An-Nabhani, Ibid., hlm. 130-137). Selanjutnya, ia akan tumbuh menjadi anak yang prestatif.
Demikian halnya di lingkungan keluarga dan sosial, anak yang mandiri akan mudah menyesuaikan diri (environment adjustment). Ia akan mudah untuk diterima oleh anak-anak dan teman-teman di sekitarnya. Jika demikian, kecerdasan anak—baik dalam bentuk kecerdasan intelektual (intelligence quotion), kecerdasan emosional (emotion quotion), maupun kecerdasan spiritual (spiritual quotion)—akan terus berkembang. Anak-anak seperti inilah yang kelak akan memiliki keberanian untuk melakukan amar makruf nahi mungkar sekaligus menjadi pemimpin di tengah-tengah kaum yang bertakwa.
Sebaliknya, anak-anak yang tidak mandiri akan berpengaruh negatif terhadap perkembangan kepribadiannya sendiri. Jika hal ini tidak segera teratasi, anak akan mengalami kesulitan pada perkembangan selanjutnya. Anak akan susah menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga ia memiliki kepribadian kaku. Anak yang tidak mandiri juga akan menyusahkan orang lain.
Anak-anak yang tidak mandiri cenderung tidak percaya diri dan tidak mampu menyelesaikan tugas hidupnya dengan baik. Akibatnya, prestasi belajarnya bisa mengkhawatirkan. Anak-anak seperti ini senantiasa bergantung pada orang lain; misalnya mulai dari persiapan berangkat sekolah, ketika di lingkungan sekolah, mengerjakan pekerjaan rumah, sampai dalam pola belajarnya. Dalam persiapan berangkat sekolah, misalnya, anak selalu ingin dimandikan orang lain, dibantu berpakaiannya, minta disuapi, buku dan peralatan sekolah harus disiapkan orang lain, termasuk harus selalu diantar ke sekolah. Ketika belajar di rumah, mereka mungkin mau, asalkan semua dilayani; misalnya anak akan menyuruh orang lain untuk mengambilkan pensil, buku, serutan dan sebagainya.

Penyebab Anak Tidak Mandiri
Ada beberapa alasan yang menyebabkan anak tidak mandiri. Pertama: adanya kekhawatiran yang berlebihan dari orangtua terhadap anaknya. Misalnya, orangtua melarang anaknya mandi sendiri karena khawatir kurang bersih; melarang anak makan sendiri karena khawatir makanan tumpah. Segala kehawatiran lingkungan yang berlebihan akan menyebabkan anak tidak mandiri.
Kedua: orangtua sering membatasi dan melarang anaknya berbuat sesuatu secara berlebihan. Setiap anak beraktivitas, orangtua sering mengatakan, “jangan” tanpa diikuti argumentasi yang jelas. Pola doktrin seperti ini membuat anak ragu-ragu untuk mengembangkan kreativitasnya. Kondisi seperti ini akan mendidik anak untuk tidak berani membuat keputusan (decession making) dalam kehidupannya sehari-hari.
Ketiga: kasih-sayang orangtua yang berlebihan terhadap anak. Misalnya, karena sangat sayang, apapun keinginan anak dipenuhi. Bahkan karena protektifnya, anak dibiarkan saja “duduk manis”, sementara orangtua atau pembantunya sibuk melayaninya. Pendidikan dengan model menjadikan anak sebagai raja kecil atau “the little king” dalam rumah merupakan penyebab anak tidak mandiri.

Agar Anak Mandiri
Untuk mencegah ketidakmandirian anak, atau agar anak mandiri, ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh orangtua sebagai berikut.
Pertama: memberikan pemahaman kepada anak sesuai dengan tingkat perkembangan (kemampuan) akalnya. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Ali bin Abi Thalib ra., pernah bersabda:

Berbicaralah kepada manusia dengan sesuatu yang mereka ketahui. Apakah engkau suka jika Allah dan Rasul-Nya didustakan? (HR al-Bukhari).

Dengan demikian, pemberian pemahaman terhadap anak tentang arti pentingnya mandiri harus didasarkan pada argumentasi yang bisa dipahami anak dan berlandaskan akidah Islam. Tujuannya adalah agar anak menyadari pentingnya memenuhi kebutuhan sendiri secara bertanggung jawab sesuai dengan perintah Allah Swt.; bukan melakukannya karena kebiasaan saja, takut terhadap orangtua, atau takut gagal jika tidak mandiri. Penyadaran dengan pemahaman tidak cukup dilakukan sekali. Orangtua harus sabar untuk terus membimbingnya dan disertai praktik mandiri pada anak.
Kedua: berbuatlah secara bijaksana. Dalam hal tertentu, jangan memaksa anak untuk berbuat sesuatu ataupun membiarkan anak berbuat sesuatu, kecuali sesuatu itu tidak membahayakan dirinya dan tidak menyimpang dari tata aturan Islam. Rasulullah saw. bersabda, sebagaimana dituturkan Abu Hurairah ra.:

Kamu semua disuruh untuk berlaku manis dan bijaksana, bukan berlaku kasar dan mengundang kesulitan. (HR al-Bukhari).

Dengan cara demikian, naluri anak untuk berkembang dapat tersalurkan; pola intelektualitas, emosionalitas dan kreativitas anak juga akan tumbuh. Berbeda halnya dengan anak yang senantiasa dibatasi (restricted), naluri perkembangan psikologinya bisa menjadi tumpul. Akibatnya, anak akan bergantung pada orang lain dan tidak berprestasi.
Ketiga: memberikan kasih sayang secara wajar; dalam perilaku, hadiah, maupun pujian. Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan Abu Musa ra., pernah mendengar seorang laki-laki yang memuji seorang yang lain secara berlebihan. Lalu Beliau bersabda (yang artinya), “Kamu telah mencelakakan orang itu!” (HR al-Bukhari).
Kasih-sayang yang kurang ataupun berlebihan sama-sama memiliki dampak negatif bagi perkembangan anak. Jika kasih-sayang orangtua kurang, anak bisa menjadi “extrem kiri”: bandel, kasar, jahat, dan sebagainya. Sebaliknya, jika anak ’kelebihan’ kasih sayang, pola kepribadian anak akan menjadi “extrem kanan”: bersikap manja sehingga malas merawat dirinya, selalu minta dituruti kemauannya, dan sering mengendalikan orangtuanya.
Keempat: memberikan cara pendidikan secara tegas kepada anak. Tidak dibenarkan jika orangtua bersifat “plintat-plintut” (inkonsisten) dalam mendidik anak. Di sinilah juga pentingnya ayah dan ibu seiring dan sejalan dalam mendidik anak. Ketidaksejalanan ayah dan ibu dalam mendidik anak akan membuat anak bersikap tidak konsisten sehingga sikap kemandirian anak tidak berkembang secara baik.
Wallâhu a‘lam bi ash-shawâb.

Tips buat Si Kecil makan

Bagaimana mendorong balita untuk makan?

Jangan cemas bila balita Ibu mulai memilih makanannya atau menolak makan setelah beberapa suapan. Bebaskan ia memilih apa yang ia suka. Ajak mereka menyiapkan makanan atau membiarkan mereka meletakkan potongan ikan ke dalam piring makannya mungkin membuat balita tergugah untuk makan.

Rencanakan waktu makan yang teratur.

  • Rutinitas penting bagi balita, jadi jagalah jadwal waktu makan dan makanan selingan setiap hari. Jangan merencanakan makan mendekati waktu tidur siang- mereka mungkin terlalu capek untuk makan.

  • Berikan makanan selingan yang menyehatkan dua atau tiga kali dalam sehari. Cobalah potongan buah segar, sayuran rebus, biskuit , sandwich kecil, atau potongan keju.

  • Jangan memberikan terlalu banyak minum karena membuat mereka terlalu kenyang ketika waktu makan tiba.

  • Latih ia makan sendiri di kursi makannya. Biarkan balita Ibu yang memutuskan seberapa banyak makanan yang dia perlukan setiap kali makan. Mereka akan mengetahui kapan mereka merasa kenyang dan kapan merasa lapar.

Menjadikan waktu makan menyenangkan

  • Sajikan makanan dengan menu berganti tiap 2 atau 3 hari sekali dalam ukuran dan bentuk menarik. Misalnya roti atau wortel dipotong bentuk bintang, hati, atau binatang. Ubah penampilan sepiring nasi menjadi wajah badut lucu. Jika balita Ibu suka pasta, pilih bentuk menarik seperti pita, kerang yang menggunggah selera.

  • Ciptakan nama-nama lucu dan mudah diingat seperti puding pelangi, Pizza bintang, atau nama makanan yang diberikan oleh balita.

  • Buat gambar lucu di piring balita Ibu. Seperti membentuk muka tersenyum dan biarkan balita Anda berkreasi dengan makanannya.

  • Jika bosan di meja makan, pindahkan acara makan selingan dengan menggelar tikar seperti piknik dalam rumah. Jangan cemas bila ruangan kotor karena anak belum terampil makan dengan rapi. Semua adalah proses belajar bagi balita.

  • Pujian juga diperlukan balita untuk membangun rasa percaya diri. Beri tapuk tangan setiap kali ia menghabiskan makanannya.

Libatkan mereka

  • Balita selalu senang bereksplorasi. Ia akan senang juga bila Ibu libatkan mulai dari belanja bahan makanan hingga memasak makanan yang mereka inginkan.

  • Sambil ikut belanja, balita Ibu belajar banyak hal seperti menunjukkan dan menyebutkan nama buah atau sayuran yang ada di supermarket. Pujilah bila mereka melakukannya dengan benar.

  • Kalau tak memungkinkan ikut memasak karena faktor keamanan, Ia bisa duduk di sebelah Ibu sambil memperhatikan ketika Ibu mengolah makanan. Lakukanlah dengan bercerita mengenai buah dan sayur misalnya.

  • Tawarkan mereka untuk memilih minuman atau makanan apa yang diinginkan. Mereka akan senang menjadi bagian dari proses membuat keputusan dan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi si balita.

Perlakukan balita Ibu sebagai individu

  • Walau masih kecil, balita Ibu adalah individu yang mulai tumbuh kepribadiannya. Mereka mulai punya pilihan sendiri tentang makanannya.

  • Tak ada salahnya menuruti keinginan mereka mengenai makanan apa yang diinginkan asal tidak berlebihan.

  • Berikan perangkat makan favorit pilihan mereka yang akan membuat acara makan lebih menyenangkan.

Info : http://www.clubnutricia.co.id

Tips buat Si Kecil makan

Bagaimana mendorong balita untuk makan?

Jangan cemas bila balita Ibu mulai memilih makanannya atau menolak makan setelah beberapa suapan. Bebaskan ia memilih apa yang ia suka. Ajak mereka menyiapkan makanan atau membiarkan mereka meletakkan potongan ikan ke dalam piring makannya mungkin membuat balita tergugah untuk makan.

Rencanakan waktu makan yang teratur.

  • Rutinitas penting bagi balita, jadi jagalah jadwal waktu makan dan makanan selingan setiap hari. Jangan merencanakan makan mendekati waktu tidur siang- mereka mungkin terlalu capek untuk makan.

  • Berikan makanan selingan yang menyehatkan dua atau tiga kali dalam sehari. Cobalah potongan buah segar, sayuran rebus, biskuit , sandwich kecil, atau potongan keju.

  • Jangan memberikan terlalu banyak minum karena membuat mereka terlalu kenyang ketika waktu makan tiba.

  • Latih ia makan sendiri di kursi makannya. Biarkan balita Ibu yang memutuskan seberapa banyak makanan yang dia perlukan setiap kali makan. Mereka akan mengetahui kapan mereka merasa kenyang dan kapan merasa lapar.

Menjadikan waktu makan menyenangkan

  • Sajikan makanan dengan menu berganti tiap 2 atau 3 hari sekali dalam ukuran dan bentuk menarik. Misalnya roti atau wortel dipotong bentuk bintang, hati, atau binatang. Ubah penampilan sepiring nasi menjadi wajah badut lucu. Jika balita Ibu suka pasta, pilih bentuk menarik seperti pita, kerang yang menggunggah selera.

  • Ciptakan nama-nama lucu dan mudah diingat seperti puding pelangi, Pizza bintang, atau nama makanan yang diberikan oleh balita.

  • Buat gambar lucu di piring balita Ibu. Seperti membentuk muka tersenyum dan biarkan balita Anda berkreasi dengan makanannya.

  • Jika bosan di meja makan, pindahkan acara makan selingan dengan menggelar tikar seperti piknik dalam rumah. Jangan cemas bila ruangan kotor karena anak belum terampil makan dengan rapi. Semua adalah proses belajar bagi balita.

  • Pujian juga diperlukan balita untuk membangun rasa percaya diri. Beri tapuk tangan setiap kali ia menghabiskan makanannya.

Libatkan mereka

  • Balita selalu senang bereksplorasi. Ia akan senang juga bila Ibu libatkan mulai dari belanja bahan makanan hingga memasak makanan yang mereka inginkan.

  • Sambil ikut belanja, balita Ibu belajar banyak hal seperti menunjukkan dan menyebutkan nama buah atau sayuran yang ada di supermarket. Pujilah bila mereka melakukannya dengan benar.

  • Kalau tak memungkinkan ikut memasak karena faktor keamanan, Ia bisa duduk di sebelah Ibu sambil memperhatikan ketika Ibu mengolah makanan. Lakukanlah dengan bercerita mengenai buah dan sayur misalnya.

  • Tawarkan mereka untuk memilih minuman atau makanan apa yang diinginkan. Mereka akan senang menjadi bagian dari proses membuat keputusan dan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi si balita.

Perlakukan balita Ibu sebagai individu

  • Walau masih kecil, balita Ibu adalah individu yang mulai tumbuh kepribadiannya. Mereka mulai punya pilihan sendiri tentang makanannya.

  • Tak ada salahnya menuruti keinginan mereka mengenai makanan apa yang diinginkan asal tidak berlebihan.

  • Berikan perangkat makan favorit pilihan mereka yang akan membuat acara makan lebih menyenangkan.

Info : http://www.clubnutricia.co.id

Tips buat Si Kecil makan

Bagaimana mendorong balita untuk makan?

Jangan cemas bila balita Ibu mulai memilih makanannya atau menolak makan setelah beberapa suapan. Bebaskan ia memilih apa yang ia suka. Ajak mereka menyiapkan makanan atau membiarkan mereka meletakkan potongan ikan ke dalam piring makannya mungkin membuat balita tergugah untuk makan.

Rencanakan waktu makan yang teratur.

  • Rutinitas penting bagi balita, jadi jagalah jadwal waktu makan dan makanan selingan setiap hari. Jangan merencanakan makan mendekati waktu tidur siang- mereka mungkin terlalu capek untuk makan.

  • Berikan makanan selingan yang menyehatkan dua atau tiga kali dalam sehari. Cobalah potongan buah segar, sayuran rebus, biskuit , sandwich kecil, atau potongan keju.

  • Jangan memberikan terlalu banyak minum karena membuat mereka terlalu kenyang ketika waktu makan tiba.

  • Latih ia makan sendiri di kursi makannya. Biarkan balita Ibu yang memutuskan seberapa banyak makanan yang dia perlukan setiap kali makan. Mereka akan mengetahui kapan mereka merasa kenyang dan kapan merasa lapar.

Menjadikan waktu makan menyenangkan

  • Sajikan makanan dengan menu berganti tiap 2 atau 3 hari sekali dalam ukuran dan bentuk menarik. Misalnya roti atau wortel dipotong bentuk bintang, hati, atau binatang. Ubah penampilan sepiring nasi menjadi wajah badut lucu. Jika balita Ibu suka pasta, pilih bentuk menarik seperti pita, kerang yang menggunggah selera.

  • Ciptakan nama-nama lucu dan mudah diingat seperti puding pelangi, Pizza bintang, atau nama makanan yang diberikan oleh balita.

  • Buat gambar lucu di piring balita Ibu. Seperti membentuk muka tersenyum dan biarkan balita Anda berkreasi dengan makanannya.

  • Jika bosan di meja makan, pindahkan acara makan selingan dengan menggelar tikar seperti piknik dalam rumah. Jangan cemas bila ruangan kotor karena anak belum terampil makan dengan rapi. Semua adalah proses belajar bagi balita.

  • Pujian juga diperlukan balita untuk membangun rasa percaya diri. Beri tapuk tangan setiap kali ia menghabiskan makanannya.

Libatkan mereka

  • Balita selalu senang bereksplorasi. Ia akan senang juga bila Ibu libatkan mulai dari belanja bahan makanan hingga memasak makanan yang mereka inginkan.

  • Sambil ikut belanja, balita Ibu belajar banyak hal seperti menunjukkan dan menyebutkan nama buah atau sayuran yang ada di supermarket. Pujilah bila mereka melakukannya dengan benar.

  • Kalau tak memungkinkan ikut memasak karena faktor keamanan, Ia bisa duduk di sebelah Ibu sambil memperhatikan ketika Ibu mengolah makanan. Lakukanlah dengan bercerita mengenai buah dan sayur misalnya.

  • Tawarkan mereka untuk memilih minuman atau makanan apa yang diinginkan. Mereka akan senang menjadi bagian dari proses membuat keputusan dan itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi si balita.

Perlakukan balita Ibu sebagai individu

  • Walau masih kecil, balita Ibu adalah individu yang mulai tumbuh kepribadiannya. Mereka mulai punya pilihan sendiri tentang makanannya.

  • Tak ada salahnya menuruti keinginan mereka mengenai makanan apa yang diinginkan asal tidak berlebihan.

  • Berikan perangkat makan favorit pilihan mereka yang akan membuat acara makan lebih menyenangkan.

Info : http://www.clubnutricia.co.id

Senin, 08 Februari 2010

Saat si Kecil Tak Mau Makan

Rabu, 03/02/2010 16:00 WIB
Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(oto: askamum)
Anak yang susah sekali makan adalah masalah yang paling banyak dijumpai. Masalah ini tidak hanya berefek pada tubuh anak yang makin kurus tapi juga bisa membuat si ibu menjadi stres. Apa penyebab anak susah makan?

Anak yang susah makan biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan anak saat masih bayi yang kemudian terus berlanjut. Untuk mengubah kebiasaan ini tidaklah mudah. Jika tidak ditangani dengan baik maka lama kelamaan anak bisa saja memiliki status gizi yang buruk.

"Saat berusia 2 tahun diharapkan anak sudah bisa makan secara lengkap tapi justru itu merupakan saat tersulit bagi beberapa orangtua. Permasalahan anak tidak mau makan biasanya karena sejak usia 6 bulan ke atas anak tidak dibiasakan mengonsumsi berbagai variasi makanan," ujar dr Fiastuti Witjaksono MS, SpG(K) dalam acara jumpa pers Sustagen 100 persen untuk Buah Hati Ibu, di gedung HSBC, Jakarta, Rabu (3/2/2010).

dr Fiastuti menjelaskan sejak usia 6 bulan, bayi sudah harus diajarkan 1 rasa selama 3 hari hingga anak mengenal rasa tersebut. Setelah itu ganti dengan rasa yang lain sehingga anak menyukai berbagai variasi rasa. Tapi sebaiknya orangtua jangan mencampurkan berbagai macam bahan makanan (rasa) yang membuat anak menjadi tidak suka karena rasanya yang aneh bagi mereka.

Kebiasaan makan anak juga akan mencontoh orangtuanya. Jika orangtua selalu memperlihatkan pada anaknya untuk mengonsumsi berbagai macam variasi makanan maka anak juga akan mengonsumsi semuanya.

"Kalau sejak kecil sudah tidak dibiasakan mengonsumsi berbagai macam variasi makanan, maka jangan harap saat remaja atau dewasa nanti anak gampang dalam hal urusan makan. Anak bisa saja hanya mau makan makanan yang disukai (picky eater)," ujar dokter yang juga anggota PDGKI (persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia).

Kunci untuk mengatasi hal ini adalah ibu harus kreatif dalam menciptakan berbagai variasi makanan serta menciptakan suasana yang menyenangkan saat sedang makan. Tidak perlu mahal, ibu bisa membuat makanan yang menarik perhatian si kecil dengan warna atau bentuk yang lucu-lucu serta bisa sambil mengajak anak bermain atau melihat sesuatu yang disukainya.

Orangtua juga jangan hanya mengandalkan pemberian susu saja. Meskipun ada kemungkinan semua kebutuhan anak terpenuhi tapi anak jadi tidak belajar mengunyah yang nantinya dapat mempengaruhi pertumbuhan gigi serta kebutuhan seratnya yang berkurang.

Untuk memastikan apakah anaknya sudah mendapatkan zat gizi yang cukup atau belum bisa dilihat dari pertambahan berat badannya yang disesuaikan dengan usia. dr Fiastuti memberikan rumus kasar dalam melihat apakah si kecil gizinya sudah cukup atau belum, yaitu BB (berat badan) anak = 10 + ((n-1) x 2) dengan n adalah usia anak.

"Angka 10 menunjukkan berat badan ideal untuk anak usia 1 tahun. Misal anaknya umur 5 tahun maka berat badannya = 10 + ((5-1) x 2) yaitu 18 kg. Tapi ini hitung-hitungan secara kasar saja, untuk lebih akurat bisa menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat)," ungkap dokter berusia 55 tahun.

Agar anak memiliki gizi yang cukup ada 3 J yang harus dipenuhi, yaitu jumlah kalori harus sesuai dengan kebutuhan, jadwal makan tersusun dnegan baik serta jenis makanannya harus memenuhi komposisi makronutrien dan mikronutrien.

Variasi makanan yang tersedia saat ini banyak sekali dengan rasa yang enak dan sangat enak, tapi belum tentu semua gizinya tepat dan bagus untuk anak. Karenanya orangtua harus jeli dalam melihat isi kandungan dari makanan yang dikonsumsi anaknya.

"Usia bayi di atas 6 bulan adalah masa kritis yang bisa mempengaruhi bagaimana pola makan anak nantinya, karena itu mengajarkan anak berbagai variasi makanan penting dilakukan sejak dini," ujar dr Fiastuti.

Saat si Kecil Tak Mau Makan

Rabu, 03/02/2010 16:00 WIB
Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(oto: askamum)
Anak yang susah sekali makan adalah masalah yang paling banyak dijumpai. Masalah ini tidak hanya berefek pada tubuh anak yang makin kurus tapi juga bisa membuat si ibu menjadi stres. Apa penyebab anak susah makan?

Anak yang susah makan biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan anak saat masih bayi yang kemudian terus berlanjut. Untuk mengubah kebiasaan ini tidaklah mudah. Jika tidak ditangani dengan baik maka lama kelamaan anak bisa saja memiliki status gizi yang buruk.

"Saat berusia 2 tahun diharapkan anak sudah bisa makan secara lengkap tapi justru itu merupakan saat tersulit bagi beberapa orangtua. Permasalahan anak tidak mau makan biasanya karena sejak usia 6 bulan ke atas anak tidak dibiasakan mengonsumsi berbagai variasi makanan," ujar dr Fiastuti Witjaksono MS, SpG(K) dalam acara jumpa pers Sustagen 100 persen untuk Buah Hati Ibu, di gedung HSBC, Jakarta, Rabu (3/2/2010).

dr Fiastuti menjelaskan sejak usia 6 bulan, bayi sudah harus diajarkan 1 rasa selama 3 hari hingga anak mengenal rasa tersebut. Setelah itu ganti dengan rasa yang lain sehingga anak menyukai berbagai variasi rasa. Tapi sebaiknya orangtua jangan mencampurkan berbagai macam bahan makanan (rasa) yang membuat anak menjadi tidak suka karena rasanya yang aneh bagi mereka.

Kebiasaan makan anak juga akan mencontoh orangtuanya. Jika orangtua selalu memperlihatkan pada anaknya untuk mengonsumsi berbagai macam variasi makanan maka anak juga akan mengonsumsi semuanya.

"Kalau sejak kecil sudah tidak dibiasakan mengonsumsi berbagai macam variasi makanan, maka jangan harap saat remaja atau dewasa nanti anak gampang dalam hal urusan makan. Anak bisa saja hanya mau makan makanan yang disukai (picky eater)," ujar dokter yang juga anggota PDGKI (persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia).

Kunci untuk mengatasi hal ini adalah ibu harus kreatif dalam menciptakan berbagai variasi makanan serta menciptakan suasana yang menyenangkan saat sedang makan. Tidak perlu mahal, ibu bisa membuat makanan yang menarik perhatian si kecil dengan warna atau bentuk yang lucu-lucu serta bisa sambil mengajak anak bermain atau melihat sesuatu yang disukainya.

Orangtua juga jangan hanya mengandalkan pemberian susu saja. Meskipun ada kemungkinan semua kebutuhan anak terpenuhi tapi anak jadi tidak belajar mengunyah yang nantinya dapat mempengaruhi pertumbuhan gigi serta kebutuhan seratnya yang berkurang.

Untuk memastikan apakah anaknya sudah mendapatkan zat gizi yang cukup atau belum bisa dilihat dari pertambahan berat badannya yang disesuaikan dengan usia. dr Fiastuti memberikan rumus kasar dalam melihat apakah si kecil gizinya sudah cukup atau belum, yaitu BB (berat badan) anak = 10 + ((n-1) x 2) dengan n adalah usia anak.

"Angka 10 menunjukkan berat badan ideal untuk anak usia 1 tahun. Misal anaknya umur 5 tahun maka berat badannya = 10 + ((5-1) x 2) yaitu 18 kg. Tapi ini hitung-hitungan secara kasar saja, untuk lebih akurat bisa menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat)," ungkap dokter berusia 55 tahun.

Agar anak memiliki gizi yang cukup ada 3 J yang harus dipenuhi, yaitu jumlah kalori harus sesuai dengan kebutuhan, jadwal makan tersusun dnegan baik serta jenis makanannya harus memenuhi komposisi makronutrien dan mikronutrien.

Variasi makanan yang tersedia saat ini banyak sekali dengan rasa yang enak dan sangat enak, tapi belum tentu semua gizinya tepat dan bagus untuk anak. Karenanya orangtua harus jeli dalam melihat isi kandungan dari makanan yang dikonsumsi anaknya.

"Usia bayi di atas 6 bulan adalah masa kritis yang bisa mempengaruhi bagaimana pola makan anak nantinya, karena itu mengajarkan anak berbagai variasi makanan penting dilakukan sejak dini," ujar dr Fiastuti.

Saat si Kecil Tak Mau Makan

Rabu, 03/02/2010 16:00 WIB
Vera Farah Bararah - detikHealth

img
(oto: askamum)
Anak yang susah sekali makan adalah masalah yang paling banyak dijumpai. Masalah ini tidak hanya berefek pada tubuh anak yang makin kurus tapi juga bisa membuat si ibu menjadi stres. Apa penyebab anak susah makan?

Anak yang susah makan biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan anak saat masih bayi yang kemudian terus berlanjut. Untuk mengubah kebiasaan ini tidaklah mudah. Jika tidak ditangani dengan baik maka lama kelamaan anak bisa saja memiliki status gizi yang buruk.

"Saat berusia 2 tahun diharapkan anak sudah bisa makan secara lengkap tapi justru itu merupakan saat tersulit bagi beberapa orangtua. Permasalahan anak tidak mau makan biasanya karena sejak usia 6 bulan ke atas anak tidak dibiasakan mengonsumsi berbagai variasi makanan," ujar dr Fiastuti Witjaksono MS, SpG(K) dalam acara jumpa pers Sustagen 100 persen untuk Buah Hati Ibu, di gedung HSBC, Jakarta, Rabu (3/2/2010).

dr Fiastuti menjelaskan sejak usia 6 bulan, bayi sudah harus diajarkan 1 rasa selama 3 hari hingga anak mengenal rasa tersebut. Setelah itu ganti dengan rasa yang lain sehingga anak menyukai berbagai variasi rasa. Tapi sebaiknya orangtua jangan mencampurkan berbagai macam bahan makanan (rasa) yang membuat anak menjadi tidak suka karena rasanya yang aneh bagi mereka.

Kebiasaan makan anak juga akan mencontoh orangtuanya. Jika orangtua selalu memperlihatkan pada anaknya untuk mengonsumsi berbagai macam variasi makanan maka anak juga akan mengonsumsi semuanya.

"Kalau sejak kecil sudah tidak dibiasakan mengonsumsi berbagai macam variasi makanan, maka jangan harap saat remaja atau dewasa nanti anak gampang dalam hal urusan makan. Anak bisa saja hanya mau makan makanan yang disukai (picky eater)," ujar dokter yang juga anggota PDGKI (persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia).

Kunci untuk mengatasi hal ini adalah ibu harus kreatif dalam menciptakan berbagai variasi makanan serta menciptakan suasana yang menyenangkan saat sedang makan. Tidak perlu mahal, ibu bisa membuat makanan yang menarik perhatian si kecil dengan warna atau bentuk yang lucu-lucu serta bisa sambil mengajak anak bermain atau melihat sesuatu yang disukainya.

Orangtua juga jangan hanya mengandalkan pemberian susu saja. Meskipun ada kemungkinan semua kebutuhan anak terpenuhi tapi anak jadi tidak belajar mengunyah yang nantinya dapat mempengaruhi pertumbuhan gigi serta kebutuhan seratnya yang berkurang.

Untuk memastikan apakah anaknya sudah mendapatkan zat gizi yang cukup atau belum bisa dilihat dari pertambahan berat badannya yang disesuaikan dengan usia. dr Fiastuti memberikan rumus kasar dalam melihat apakah si kecil gizinya sudah cukup atau belum, yaitu BB (berat badan) anak = 10 + ((n-1) x 2) dengan n adalah usia anak.

"Angka 10 menunjukkan berat badan ideal untuk anak usia 1 tahun. Misal anaknya umur 5 tahun maka berat badannya = 10 + ((5-1) x 2) yaitu 18 kg. Tapi ini hitung-hitungan secara kasar saja, untuk lebih akurat bisa menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat)," ungkap dokter berusia 55 tahun.

Agar anak memiliki gizi yang cukup ada 3 J yang harus dipenuhi, yaitu jumlah kalori harus sesuai dengan kebutuhan, jadwal makan tersusun dnegan baik serta jenis makanannya harus memenuhi komposisi makronutrien dan mikronutrien.

Variasi makanan yang tersedia saat ini banyak sekali dengan rasa yang enak dan sangat enak, tapi belum tentu semua gizinya tepat dan bagus untuk anak. Karenanya orangtua harus jeli dalam melihat isi kandungan dari makanan yang dikonsumsi anaknya.

"Usia bayi di atas 6 bulan adalah masa kritis yang bisa mempengaruhi bagaimana pola makan anak nantinya, karena itu mengajarkan anak berbagai variasi makanan penting dilakukan sejak dini," ujar dr Fiastuti.

Fakta Menarik dari Polah Bayi

Vera Farah Bararah - detikHealth

Selasa, 26/01/2010 15:30 WIB
img
(Foto: ehow)
Jakarta, Tidak semua fakta mengenai bayi diketahui oleh masyarakat apalagi orangtuanya. Cari tahu fakta menarik apa saja seputar tingkah polah si bayi agar orangtua tidak terkaget-kaget.

Apapun latar belakang etnisnya, semua bayi dilahirkan dengan kulit yang berwarna agak merah muda akibat kulit bayi yang masih sangat tipis sehingga warna pembuluh darah terlihat.

Seperti dikutip dari Askamum, Selasa 26/1/2010) masih ada beberapa fakta lain yang jarang diketahui masyarakat, yaitu:

1. Bayi yang baru lahir mengenali ibunya melalui suara yang didengarnya saat dilahirkan, sekitar 14 hari kemudian baru belajar mengenali suara ayahnya.

2. Bayi yang baru lahir selalu dilahirkan dengan mata biru, tapi warna ini bisa berubah dalam beberapa menit setelah kelahiran.

3. Wajah bayi berubah sangat cepat, biasanya wajah bayi akan terlihat sangat berbeda dalam beberapa hari.

4. Bayi laki-laki maupun perempuan lahir dengan sedikit payudara yang membengkak. Ini dikarenakan bayi menerima asupan hormon perempuan dari plasenta sebelum kelahiran.

5. Bayi hingga usia 6-7 bulan bisa bernapas dan menelan pada waktu yang bersamaan, sedangkan orang dewasa tidak bisa.

6. Bayi tidak memiliki keringat karena kelenjar keringatnya belum berkembang secara sempurna.

7. Sidik jari baru akan terbentuk saat bayi berusia 3 bulan.

8. Bayi yang baru lahir hanya terfokus pada obyek yang berjarak 25 cm dari hidungnya, diperkirakan itu adalah jarak dari payudara ibunya ke mata si bayi.

9. Bayi sering terlihat sedang tersenyum saat di USG, tapi proses kelahiran merusak suasana hatinya sehingga bayi jarang sekali tersenyum selama sekitar 1 bulan setelah kelahiran.

10. Tak peduli tanggal berapa bayi tersebut lahir, tapi di tanggal yang sama dia akan berbagi ulang tahun dengan sekitar 9 juta orang lain di seluruh dunia.

11. Saat kelahiran otak bayi terdiri lebih dari 10 juta sel saraf.

12. Rata-rata bayi tidak akan mengeluarkan air mata saat menangis hingga berusia 3-6 minggu.

13. Tangan kanan atau kiri yang akan dominan digunakan oleh bayi sudah ditentukan sejak usia kehamilan 10 minggu di dalam rahim.

14. Berat kepala bayi yang baru lahir sebesar seperempat dari total berat tubuhnya.

15. Bayi yang baru lahir tidak akan memiliki tempurung lutut, bayi akan mengembangkannya pada usia antara enam bulan sampai satu tahun.

16. Bayi memiliki indra penciuman yang sangat kuat, sehingga bayi mudah mengenali ibunya melalui penciuman sendiri.

17. Satu dari sepuluh bayi yang lahir memiliki setidaknya satu tanda lahir.

18. Bayi bernapas lebih cepat dari orang dewasa yaitu sekitar 30-50 kali dalam 1 menit, sedangkan orang dewasa sekitar 15-20 kali dalam satu menit.

19. Bayi sering merasa gugup atau takut pada jenis makanan baru. Untuk mengatasinya cobalah bermain-main sedikit dengan makanan tersebut atau meletakkan sedikit makanan pada jari telunjuknya.

20. Jantung janin mulai berdetak 3 minggu setelah pembuahan.
(ver/ir)

Fakta Menarik dari Polah Bayi

Vera Farah Bararah - detikHealth

Selasa, 26/01/2010 15:30 WIB
img
(Foto: ehow)
Jakarta, Tidak semua fakta mengenai bayi diketahui oleh masyarakat apalagi orangtuanya. Cari tahu fakta menarik apa saja seputar tingkah polah si bayi agar orangtua tidak terkaget-kaget.

Apapun latar belakang etnisnya, semua bayi dilahirkan dengan kulit yang berwarna agak merah muda akibat kulit bayi yang masih sangat tipis sehingga warna pembuluh darah terlihat.

Seperti dikutip dari Askamum, Selasa 26/1/2010) masih ada beberapa fakta lain yang jarang diketahui masyarakat, yaitu:

1. Bayi yang baru lahir mengenali ibunya melalui suara yang didengarnya saat dilahirkan, sekitar 14 hari kemudian baru belajar mengenali suara ayahnya.

2. Bayi yang baru lahir selalu dilahirkan dengan mata biru, tapi warna ini bisa berubah dalam beberapa menit setelah kelahiran.

3. Wajah bayi berubah sangat cepat, biasanya wajah bayi akan terlihat sangat berbeda dalam beberapa hari.

4. Bayi laki-laki maupun perempuan lahir dengan sedikit payudara yang membengkak. Ini dikarenakan bayi menerima asupan hormon perempuan dari plasenta sebelum kelahiran.

5. Bayi hingga usia 6-7 bulan bisa bernapas dan menelan pada waktu yang bersamaan, sedangkan orang dewasa tidak bisa.

6. Bayi tidak memiliki keringat karena kelenjar keringatnya belum berkembang secara sempurna.

7. Sidik jari baru akan terbentuk saat bayi berusia 3 bulan.

8. Bayi yang baru lahir hanya terfokus pada obyek yang berjarak 25 cm dari hidungnya, diperkirakan itu adalah jarak dari payudara ibunya ke mata si bayi.

9. Bayi sering terlihat sedang tersenyum saat di USG, tapi proses kelahiran merusak suasana hatinya sehingga bayi jarang sekali tersenyum selama sekitar 1 bulan setelah kelahiran.

10. Tak peduli tanggal berapa bayi tersebut lahir, tapi di tanggal yang sama dia akan berbagi ulang tahun dengan sekitar 9 juta orang lain di seluruh dunia.

11. Saat kelahiran otak bayi terdiri lebih dari 10 juta sel saraf.

12. Rata-rata bayi tidak akan mengeluarkan air mata saat menangis hingga berusia 3-6 minggu.

13. Tangan kanan atau kiri yang akan dominan digunakan oleh bayi sudah ditentukan sejak usia kehamilan 10 minggu di dalam rahim.

14. Berat kepala bayi yang baru lahir sebesar seperempat dari total berat tubuhnya.

15. Bayi yang baru lahir tidak akan memiliki tempurung lutut, bayi akan mengembangkannya pada usia antara enam bulan sampai satu tahun.

16. Bayi memiliki indra penciuman yang sangat kuat, sehingga bayi mudah mengenali ibunya melalui penciuman sendiri.

17. Satu dari sepuluh bayi yang lahir memiliki setidaknya satu tanda lahir.

18. Bayi bernapas lebih cepat dari orang dewasa yaitu sekitar 30-50 kali dalam 1 menit, sedangkan orang dewasa sekitar 15-20 kali dalam satu menit.

19. Bayi sering merasa gugup atau takut pada jenis makanan baru. Untuk mengatasinya cobalah bermain-main sedikit dengan makanan tersebut atau meletakkan sedikit makanan pada jari telunjuknya.

20. Jantung janin mulai berdetak 3 minggu setelah pembuahan.
(ver/ir)

Fakta Menarik dari Polah Bayi

Vera Farah Bararah - detikHealth

Selasa, 26/01/2010 15:30 WIB
img
(Foto: ehow)
Jakarta, Tidak semua fakta mengenai bayi diketahui oleh masyarakat apalagi orangtuanya. Cari tahu fakta menarik apa saja seputar tingkah polah si bayi agar orangtua tidak terkaget-kaget.

Apapun latar belakang etnisnya, semua bayi dilahirkan dengan kulit yang berwarna agak merah muda akibat kulit bayi yang masih sangat tipis sehingga warna pembuluh darah terlihat.

Seperti dikutip dari Askamum, Selasa 26/1/2010) masih ada beberapa fakta lain yang jarang diketahui masyarakat, yaitu:

1. Bayi yang baru lahir mengenali ibunya melalui suara yang didengarnya saat dilahirkan, sekitar 14 hari kemudian baru belajar mengenali suara ayahnya.

2. Bayi yang baru lahir selalu dilahirkan dengan mata biru, tapi warna ini bisa berubah dalam beberapa menit setelah kelahiran.

3. Wajah bayi berubah sangat cepat, biasanya wajah bayi akan terlihat sangat berbeda dalam beberapa hari.

4. Bayi laki-laki maupun perempuan lahir dengan sedikit payudara yang membengkak. Ini dikarenakan bayi menerima asupan hormon perempuan dari plasenta sebelum kelahiran.

5. Bayi hingga usia 6-7 bulan bisa bernapas dan menelan pada waktu yang bersamaan, sedangkan orang dewasa tidak bisa.

6. Bayi tidak memiliki keringat karena kelenjar keringatnya belum berkembang secara sempurna.

7. Sidik jari baru akan terbentuk saat bayi berusia 3 bulan.

8. Bayi yang baru lahir hanya terfokus pada obyek yang berjarak 25 cm dari hidungnya, diperkirakan itu adalah jarak dari payudara ibunya ke mata si bayi.

9. Bayi sering terlihat sedang tersenyum saat di USG, tapi proses kelahiran merusak suasana hatinya sehingga bayi jarang sekali tersenyum selama sekitar 1 bulan setelah kelahiran.

10. Tak peduli tanggal berapa bayi tersebut lahir, tapi di tanggal yang sama dia akan berbagi ulang tahun dengan sekitar 9 juta orang lain di seluruh dunia.

11. Saat kelahiran otak bayi terdiri lebih dari 10 juta sel saraf.

12. Rata-rata bayi tidak akan mengeluarkan air mata saat menangis hingga berusia 3-6 minggu.

13. Tangan kanan atau kiri yang akan dominan digunakan oleh bayi sudah ditentukan sejak usia kehamilan 10 minggu di dalam rahim.

14. Berat kepala bayi yang baru lahir sebesar seperempat dari total berat tubuhnya.

15. Bayi yang baru lahir tidak akan memiliki tempurung lutut, bayi akan mengembangkannya pada usia antara enam bulan sampai satu tahun.

16. Bayi memiliki indra penciuman yang sangat kuat, sehingga bayi mudah mengenali ibunya melalui penciuman sendiri.

17. Satu dari sepuluh bayi yang lahir memiliki setidaknya satu tanda lahir.

18. Bayi bernapas lebih cepat dari orang dewasa yaitu sekitar 30-50 kali dalam 1 menit, sedangkan orang dewasa sekitar 15-20 kali dalam satu menit.

19. Bayi sering merasa gugup atau takut pada jenis makanan baru. Untuk mengatasinya cobalah bermain-main sedikit dengan makanan tersebut atau meletakkan sedikit makanan pada jari telunjuknya.

20. Jantung janin mulai berdetak 3 minggu setelah pembuahan.
(ver/ir)

Pentingnya Mencukur Rambut Bayi


Mencukur rambut bayi yang baru lahir buat sebagian kepercayaan orang dianggap bisa membuang sial. Rambut bawaan dari bayi baru lahir dianggap disenangi makhluk halus dan bikin si bayi penyakitan. Fakta yang benar mencukur rambut bayi adalah untuk alasan kesehatan.

Mencukur rambut bayi di sebagian masyarakat Indonesia sudah menjadi tradisi sehingga ada yang mencukurnya saat bayi berusia 7 hari, ada pula yang mencukurnya saat berusia 40 hari.

Sebagian orangtua percaya jika rambut anaknya dicukur maka nantinya akan tumbuh lebih tebal dan cepat. Tapi mitos ini tidak terbukti kebenarannya karena belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya.

"Alasan orangtua untuk mencukur rambut bayinya mungkin lebih tepat untuk alasan kesehatan karena belum tentu akan membantu rambut tumbuh menjadi lebih tebal atau cepat," ujar pakar rambut Karen Shelton seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (3/2/2010).

Rambut seseorang tumbuh dari folikel (tabung rambut) yang berada di bawah permukaan kulit kepala. Jadi apapun yang dilakukan orang dengan rambut bagian luarnya tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan dari folikel rambut itu sendiri.

Sebenarnya sudah menjadi hal yang umum bahwa bayi akan kehilangan rambutnya selama enam bulan pertama. Hal ini disebut dengan telogen effluvium. Pada intinya rambut memiliki dua fase yaitu fase pertumbuhan dan fase istirahat. Rambut akan masuk ke fase istirahat jika tubuh sedang demam atau adanya perubahan hormonal.

Rambut rontok biasanya dimulai saat memasuki tahap pertumbuhan yaitu saat usianya 3 bulan ke atas. Seorang bayi yang baru lahir, kadar hormonnya akan turun tepat setelah dilahirkan. Hal inilah yang menyebabkan rambut bayi terlihat tipis saat baru lahir.

"Jika orangtua memutuskan untuk mencukur rambut bayi, sebaiknya dilakukan saat bayi sedang tidur sehingga tidak banyak bergerak. Ini berguna agar tidak berisiko melukai kulit kepala bayi," ujar dokter kulit pediatrik, Michael Smith.

Mencukur rambut bayi sangat bagus untuk membersihkan kepala bayi dari kotoran atau lemak yang menempel di kepala saat bayi dilahirkan. Dengan begitu maka kepala bayi akan bersih dan menghindari kemungkinan munculnya penyakit akibat rambut yang tidak bersih.

Selain itu jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan rambut si bayi dengan rajin keramas sambil dipijat ringan agar bayi tidak stres. Jadi tak ada salahnya untuk mencukur rambut bayi baru untuk alasan kesehatan agar lemak-lemak yang menempel di rambut dan kulit kepala saat lahir bisa dibersihkan.
(vera - detik.com) (Foto : ajijoi.blogspot.com)

Pentingnya Mencukur Rambut Bayi


Mencukur rambut bayi yang baru lahir buat sebagian kepercayaan orang dianggap bisa membuang sial. Rambut bawaan dari bayi baru lahir dianggap disenangi makhluk halus dan bikin si bayi penyakitan. Fakta yang benar mencukur rambut bayi adalah untuk alasan kesehatan.

Mencukur rambut bayi di sebagian masyarakat Indonesia sudah menjadi tradisi sehingga ada yang mencukurnya saat bayi berusia 7 hari, ada pula yang mencukurnya saat berusia 40 hari.

Sebagian orangtua percaya jika rambut anaknya dicukur maka nantinya akan tumbuh lebih tebal dan cepat. Tapi mitos ini tidak terbukti kebenarannya karena belum ada bukti ilmiah yang mendukungnya.

"Alasan orangtua untuk mencukur rambut bayinya mungkin lebih tepat untuk alasan kesehatan karena belum tentu akan membantu rambut tumbuh menjadi lebih tebal atau cepat," ujar pakar rambut Karen Shelton seperti dikutip dari Babycenter, Rabu (3/2/2010).

Rambut seseorang tumbuh dari folikel (tabung rambut) yang berada di bawah permukaan kulit kepala. Jadi apapun yang dilakukan orang dengan rambut bagian luarnya tidak akan berpengaruh terhadap perkembangan dari folikel rambut itu sendiri.

Sebenarnya sudah menjadi hal yang umum bahwa bayi akan kehilangan rambutnya selama enam bulan pertama. Hal ini disebut dengan telogen effluvium. Pada intinya rambut memiliki dua fase yaitu fase pertumbuhan dan fase istirahat. Rambut akan masuk ke fase istirahat jika tubuh sedang demam atau adanya perubahan hormonal.

Rambut rontok biasanya dimulai saat memasuki tahap pertumbuhan yaitu saat usianya 3 bulan ke atas. Seorang bayi yang baru lahir, kadar hormonnya akan turun tepat setelah dilahirkan. Hal inilah yang menyebabkan rambut bayi terlihat tipis saat baru lahir.

"Jika orangtua memutuskan untuk mencukur rambut bayi, sebaiknya dilakukan saat bayi sedang tidur sehingga tidak banyak bergerak. Ini berguna agar tidak berisiko melukai kulit kepala bayi," ujar dokter kulit pediatrik, Michael Smith.

Mencukur rambut bayi sangat bagus untuk membersihkan kepala bayi dari kotoran atau lemak yang menempel di kepala saat bayi dilahirkan. Dengan begitu maka kepala bayi akan bersih dan menghindari kemungkinan munculnya penyakit akibat rambut yang tidak bersih.

Selain itu jangan lupa untuk tetap menjaga kebersihan rambut si bayi dengan rajin keramas sambil dipijat ringan agar bayi tidak stres. Jadi tak ada salahnya untuk mencukur rambut bayi baru untuk alasan kesehatan agar lemak-lemak yang menempel di rambut dan kulit kepala saat lahir bisa dibersihkan.
(vera - detik.com) (Foto : ajijoi.blogspot.com)

Sponsor Blog